"Kalau
saya melihat teman lain, saya merasa cemburu dengan keharmonisan
mereka. Papa mereka sangat sayang dengan anak-anaknya dan saya
merindukan hal itu. Saya benar-benar kehilangan figur seorang ayah. Saya
merasa saya tidak punya papa," ungkap Denny.
Trauma
masa kecil yang dialaminya membuat Denny tumbuh menjadi seorang anak
yang agak bandel. Kelas 6 SD Denny mulai mengenal rokok, ganja, narkoba bahkan sampai jatuh ke dalam dunia seks bebas. Demi mendapatkan narkoba yang harganya mahal, Denny mulai bergaul dengan preman untuk mendapatkan uang.
Di
tengah kekelaman hidup yang dijalaninya, Denny sangat mencintai
ibunya. Intensitas pertemuan dengan ayahnya yang semakin jarang membuat
keluarganya semakin terpuruk secara ekonomi. Denny yang mencintai
ibunya harus menyaksikan bagaimana ibunya sebagai seorang single parent
harus bekerja keras membiayai sekolah dia beserta saudara-saudaranya
yang masih kecil. Tak jarang ibunya rela untuk tidak makan hanya agar
Denny bisa makan.
Kenyataan
itu membuat Denny melakukan berbaga macam cara agar dapat membantu
ibunya. Setiap subuh Denny memalak tukang-tukang sayur hanya untuk
memgisi kulkas di rumahnya. Ibunya mulai mencurigai kelakuan Denny namun
ia tak pernah melihat langsung kenakalan Denny di luar rumah. Hingga
suatu hari ibunya memergoki Denny sedang menyuntikkan obat-obatan
terlarang ke tubuhnya. Ibunya yang shock menampar Denny dan langsung
pingsan mengetahui kelakuan Denny. Jauh di dalam hatinya Denny menyesali
apa yang telah dilakukannya karena sesungguhnya Denny sangat menyayangi
ibunya.
"Pertama
kali tangan saya pukul Denny waktu dia SMA," ungkap Dortje Suawah,
ibunda Denny. "Pikiran saya saat itu hanya: saya sudah hidup sendiri,
cari nafkah untuk anak-anak saya, tapi anak saya yang satu ini membuat
saya kecewa sekali," tambah Dortje dengan hati pedih.
Dalam
kesedihan hatinya, Dortje hanya bisa berdoa memohon kepada Tuhan agar
Denny dapat terlepas dari ikatan obat-obatan terlarang yang mengikatnya.
Ia tak ingin Denny semakin terpuruk akibat kesalahannya sebagai seorang
ibu yang tak mampu memberikan keluarga yang terbaik bagi Denny.
Tak mau kecewakan sang ibu, Denny ingin berhenti dari cengkeraman narkoba. Namun kebutuhannya akan narkoba
semakin meningkat dan teman dekatnya yang juga seorang wanita malam
sanggup memenuhi segala kebutuhannya akan barang laknat itu. Uang,
barang-barang mahal dan seks menjadi teman dekatnya saat itu akibat pergaulannya yang buruk.
"Tadinya
saya merasa inilah hidup saya. Tapi lama-kelamaan saya mulai capek
dengan situasi ini. Papa tidak sayang sama saya dan saya juga tidak
sanggup membahagiakan mama saya, buat apalagi saya hidup. Situasi
seperti itu membuat saya semakin down. Saya berpikir sepertinya masa
depan saya sudah gelap," ujar Denny.
Lelah karena harus selalu merasa sakau dan menjalani hidup yang suram karena harus berpacaran dengan wanita malam demi narkoba
membuat Denny berpikir bahwa mati adalah sebuah pilihan yang waras.
Namun usaha bunuh diri yang coba dilakoninya tak kunjung membuat maut
menjemputnya.
Keinginan untuk berhenti dari narkoba
sebenarnya ada di hatinya namun ia tak kuasa menahan dirinya dari
dorongan obat yang telah begitu menguasai tubuhnya. Demi memenuhi hasrat
kebutuhannya akan narkoba, Denny bahkan pernah merampok taksi. Dalam salah satu aksinya ia nyaris diamuk massa karena ketahuan warga.
Saat
massa mengejarnya, Denny berhasil bersembunyi. Denny yang tadinya
berpikir bahwa dirinya tidak takut mati ternyata takut juga untuk mati.
Di saat genting itu, ia ingat untuk berdoa kepada Tuhan. Dan secara
ajaib Tuhan menolong Denny lolos dari amukan massa. Saat itu Denny sadar
bahwa Tuhan itu baik. Bahkan untuk dirinya, seorang berdosa yang penuh
dengan kejahatan, Tuhan masih mau untuk menjawab doanya. Momen itu
sempat menjadi momen dimana Denny berpikir untuk meninggalkan segala
dosa-dosanya. Namun dalam peringatan milenium memasuki tahun 2000, Denny
mendapati dirinya masih terjerat narkoba, bahkan ia semakin terpuruk.
"Saya pesta narkoba, sampai akhirnya saya pesta seks.
Saya sadar dan bertanya-tanya kenapa saya seperti ini lagi. Padahal
niat saya adalah untuk berubah. Karena sayang saya sama mama, saya
mencoba untuk berubah. Dan saya ingat waktu dulu Tuhan jawab doa saya,
itu yang saya ingat. Sampai akhirya saya merasa bersalah. Jangan sampai
saya berakhir seperti teman saya yang terlambat (untuk ditolong),"
ungkap Denny panjang lebar.
Denny
akhirnya memutuskan untuk menghentikan semua kebiasaan buruknya. Selama
beberapa bulan Denny berusaha lepas dari ketergantungannya dengan
mengurung diri di kamar. Ibunya tak pernah tahu ketika Denny harus
menahan sakit sendirian melalui masa-masa sakaunya. Sampai akhirnya Denny berhasil lepas dari ketergantungannya akan narkoba.
Setelah
menjalani hidup baru, Denny mulai menjalin hubungan spesial dengan
seorang wanita. Denny yakin bahwa wanita ini adalah jodoh terbaik bagi
dirinya. Setelah menikah, Denny memutuskan untuk mengalah dan
meninggalkan pekerjaannya di Bandung demi dapat berkumpul dengan
istrinya di Bekasi. Namun semua usaha yang dijalaninya selalu gagal.
Sampai akhirnya kegagalan itu meninggalkan hutang dan membuatnya
frustrasi. Denny merasa ia tidak hanya gagal sebagai seorang anak yang
tak dapat membahagiakan ibunya, namun ia juga gagal sebagai seorang
suami yang tak dapat menafkahi istrinya.
Komunikasi
yang kurang dengan istrinya membuat Denny tak tahu harus berbagi kepada
siapa mengenai kondisi kegagalan bisnisnya. Teman lama menjadi pilihan
Denny untuk melepaskan rasa frustrasinya. Bahkan ia nyaris jatuh lagi ke
dalam dosa seks bebas. Kehidupan
kelam itu kembali dijalaninya sekitar tiga bulan lamanya. Sampai
akhirnya istrinya jatuh sakit. Kondisi istrinya yang harus istirahat
total di tempat tidur membuat Denny harus selalu menemani dan membantu
istrinya beraktivitas.
"Saat
itu saya merasa bersalah. Karena saya merasa kok saya senang-senang
tapi istri saya kerja keras (untuk memenuhi kebutuhan kami). Sampai
akhirnya istri saya jatuh sakit," ujar Denny.
Rasa
bersalah membuat Denny akhirnya memberanikan dirinya untuk mengaku dosa
di hadapan istrinya. Ia mengaku bagaimana dirinya kembali menggunakan narkoba, mabuk dan main perempuan. Secara mengejutkan, dengan lapang dada istri Denny memutuskan untuk mengampuni Denny.
"Saya
bertanya pada Tuhan apa yang harus saya lakukan. Dan saat itu hati saya
dikuatkan. Saya berpikir bagaimana membuat dia kembali ke jalan Tuhan
karena dia membutuhkan saya," ujar Eliana D Simbolon, istri Denny.
"Saat itu saya kaget. Saya pikir istri saya akan marah, ternyata ia hanya senyum, ia hanya elus-elus dada saya," ujar Denny.
"Yang
terngiang di telinga saya hanya kata-kata papa saya, laki-laki yang
tinggal di dalam Tuhan itulah laki-laki yang setia. Saya percaya tidak
ada manusia yang bisa merubah manusia yang lain. Manusia berubah hanya
ketika ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Itu yang saya percaya,
mangkanya saya selalu berdoa untuk suami saya," ujar Eliana.
"Ini
adalah istri terbaik yang Tuhan kasih buat saya. Ya, saya sangat
terharu sekali. karena saya telah menyakiti istri saya namun istri saya
dengan mudahnya bisa memaafkan saya," ungkap Denny.
Berawal dari keterbukaan, Denny mendapati dirinya terus dipulihkan. Denny kemudian sadar bahwa kebencian dan kepahitan
yang dimilikinya terhadap sang ayah membuat hidupnya terus jatuh bangun
dalam dosa. Melepaskan pengampunan menjadi pilihan Denny untuk
menikmati hidup berkelimpahan dan jauh dari dosa.
"Tuhan tidak suka dengan orang yang mengalami kepahitan dan kebencian karena Tuhan itu adalah kasih. Jadi, kalau kita menyimpan kebencian dan kepahitan, itu adalah lawan dari kasih. Kita tidak akan memiliki rasa kasih itu jika kita menyimpan kepahitan dan kebencian.
Kita tidak akan mengenal kasih kalau kita tidak mengenal kasih Bapa.
Dan kasih Bapa itu hanya datang daripada Yesus," ujar Denny menutup
kesaksiannya.
Sumber Kesaksian:
Denny Hilton